![]() |
| ****MEMBLI IMPIAN**** |
Saya ingat beberapa tahun yang lalu, saya pernah ada
masalah saat membangun perumahan, ada masalah yang nilainya sampai
seratus jutaan. Saya harus mempertanggungjawabkan masalah ini pada investor
saya, saya memikirkan bagaimana cara mengatasinya. Jika harus saya yang
nombokin, waktu itu bagi saya sangat-sangat berat. Apa yang saya
lakukan? Saya beli dengan mata uang ini, terutama adalah doa, kedua
berusaha menyelesaikan masalah di lapangan, yang ketiga adalah amal
yaitu tahajud dan meminta doa dari ibu saya. Setelah melakukan itu
semua, selanjutnya saya menemui investor saya dan mengakui semuanya. Saya juga bilang padanya “Ini semuanya adalah 100% kesalahan saya”.
Setelah saya bilang itu, ternyata sang investor tidak terlalu
mempermasalahkan. Meskipun ada konsekuensi, tetapi tidak terlalu berat
seperti yang saya bayangkan. Masalah bisa dituntaskan tanpa saya harus
mengeluarkan uang sepeserpun.
Ada yang bilang, “Mas Ippho, nggak boleh.. masak beramal dengan berharap, berharap dengan beramal, nggak boleh seperti itu..”. Saya bilang, “Siapa
bilang nggak boleh? Boleh kok..” yang nggak boleh itu kita berharap ke
orang atau berharap ke tuyul atau jin. Kalau berharap ke Allah itu
boleh. Bahkan, harap itu bagian dari iman. Bayangkan
teman-teman punya masalah, kemana lagi kita berharap? Tentunya kepada
Dia kan.. kepada Yang Maha Kuasa tentunya. Misalnya teman-teman punya
anak atau keponakan yang sakit keras. Kira-kira pengen nggak anaknya
sembuh? Lalu, gimana caranya? Nah.. caranya kita pakai tiga mata uang
tadi. Pertama kita usaha, misalnya dengan minum obat, multivitamin,
terapi, dsb. Kemudian kita berdoa agar disembuhkan dan disehatkan.
Ketiga adalah amal, apa amalnya? Mungkin dzikir, mungkin sedekah, dst.
Bayangkan jika ada orang yang tidak mengenal Allah, maka yang ia lakukan
ketika sakit hanya berobat dan berobat, tidak pakai doa, dan tidak
beramal. Mana yang lebih baik? Tentu yang memakai tiga-tiganya.
Lalu, contoh lain, misalnya kita sedang terbelit
hutang. Kita juga bisa beli dengan usaha, doa, dan amal. Berharap dengan
itu semua hutang segera lunas. Harap dan takut itu bagian dari iman, kita harus punya dua-duanya. Jadi bukan hanya boleh berharap, tetapi harus, karena itu bagian dari iman.
Misalnya dengan menambah ibadahnya, dzikir, sedekah, dsb. Usahanya apa?
Misal dengan mengurangi tanggungan yang tidak perlu, atau tidak
menambah kredit yang baru. Pokoknya doa, amal, dan usaha.
Sekarang kita lihat baik-baik. Teman-teman pergi ke kantor, ke kampus, atau ke toko. Pertanyaannya, kerja itu ikhtiar apa ibadah?. Mungkin teman menjawab, itu adalah ikhtiar. Benar demikian. Namun ternyata, sebenarnya itu juga ibadah, jadi sekaligus gitu. Bagi yang ke kampus atau sekolah, pertanyaan yang sama, belajar itu ikhtiar apa ibadah? Ternyata belajar adalah ibadah, tapi juga ikhtiar. Nah, kita balik cara
pandangnya, kalau kita dhuha, kalau kita sedekah, pertanyaannya adalah
dhuha kita ikhtiar atau ibadah? Teman-teman mungkin langsung bilang itu
adalah ibadah, tetapi ternyata sebenarnya itu adalah ikhtiar juga. Maka, sedekah ikhtiar, dhuha juga ikhtiar.
Ikhtiar untuk apa? Untuk memudahkan rezeki kita, untuk menjemput impian
kita. Bahkan, misalnya kita (maaf) ke toilet untuk buang air, itu
adalah ikhtiar untuk membuang kotoran dan menyehatkan kita, tetapi juga
ibadah yaitu untuk membuang najis kita dan memudahkan untuk sholat dll.
Jadi, jika kita maknai dengan benar, sebenarnya 24 jam hidup kita sehari semuanya bisa menjadi ibadah sekaligus ikhtiar. Tidurpun berarti ikhtiar dan ibadah, ikhtiar agar
badan kita tetap sehat, juga termasuk ibadah jika kita niatkan untuk
mengistirahatkan tubuh agar menyimpan tenaga untuk beribadah yang lain.
Jadi, untuk teman-teman yang berusaha menjemput rezekinya, ke kantor, kampus, atau tokonya, mari kita niatkan dengan benar. Kalau
ada masalah atau ada impian apapun yang kita inginkan, belilah dengan
tiga mata uang tersebut (doa, usaha, dan amal). Ini akan mencukupkan
rezeki kita, Insya Allah.
Semoga berkah dan melimpah.
catatan; ipo santosa
